Akhir-akhir
ini saya mendengar berita tentang berbagai hal mengenai kepemimpinan Ahok di
DKI Jakarta. Ketika segala masalah mencuat mengenai ibu kota, namanya
senantiasa merebak di media. Sebagian orang pro dan sebagian yang lain kontra.
Dari sekian banyak kasus yang
terjadi, saya tertarik untuk mengangkat peristiwa penolakan perda tentang
“berjualan kambing kurban di tanah abang”. Tidak ada masalah dengan kegiatan
jual beli yang dilakukan oleh para pedagang hewan kurban. Hanya saja, lokasi yang
menjadi perdebatan. Ahok menyediakan lapang untuk berjualan sedangkan para
pedagang menginginkan budaya berjualan hewan kurban di pinggir jalan tetap
dilaksanakan.
Terlepas dari ahok beragama bukan
Islam, pinggir jalan adalah lokasi strategis yang seringkali mengundang urat
leher menegang. Bagi anda yang tinggal di DKI Jakarta pasti tahu betul
keseringan macet yang terjadi dan sedikit banyak sudah mengerti beberapa
penyebab kemacetan. Salah satunya adalah budaya seperti ini. Meskipun hanya
beberapa saat tetap saja akan menimbulkan kemacetan.
Bayangkan jika semua orang pada
waktu yang sama berbondong-bondong pergi ke tanah abang untuk membeli kambing.
Maka pada saat itu para pembeli akan menempatkan kendaraannya dimana lagi
selain di depan kios dadakan tersebut. Otomatis jalan macet dan para pengendara
yang sebelumnya sudah mengalami kemacetan harus terus menerus mengalami
kemacetan yang menimbulkan sedikit penyakit psikis tanpa disadari.
Tidak hanya itu, polusi bau kambing
beserta kotorannya akan mengurangi kenyamanan bernafas. Belum lagi jika hewan
yang dijual tersebut sakit, maka tidak menutup kemungkinan penyakit dari
kambing bisa berpindah ke manusia melalui udara. Apa anda suka bau kambing?
Kerugian lain yang terjadi selain mengganggu
lalu lintas dan membuat polusi adalah budaya kolot orang Indonesia bertahan.
Jangan marah-marah kalau nanti rupiah terus melemah, sedikit demi sedikit
krisis ekonomi, sedikit-sedikit krisis pangan, hingga lama-lama krisis
pernafasan. Jika budaya kolot seperti ini dipertahankan, maka berbagai aspek
kehidupan tidak melaju. Negara lain terus bergerak karena senantiasa
memperbaharui kejanggalan-kejanggalan kondisi yang tidak logis. Maka dari itu,
ketika para pedagang kambing memilih untuk mempertahankan budayanya maka
jangankan bergeser kearah perekonomian maju, kata berubah hanya menjadi omong
kosong belaka.