Kamis, 23 Mei 2013

ASIMILASI

 
            Secara pribadi saya lebih cenderung untuk menjunjung asimilasi karena beberapa hal.
            Pertama. Zaman yang semakin berkembang membutuhkan perkembangan yang signifikan pula. Janggal terasa bila seseorang dimasa sekarang yang sudah mengenal banyak tentang teknologi masih berperilaku hidup seperti orang awam. Misalnya, katakanlah saya orang kampung yang sangat jauh dari pusat kota. Namun, kampung saya sudah dijamah oleh kekuatan teknologi. Akan sangat miris terlihat jika saya sebagai manusia masih menggunakan sempoa dibandingkan dengan kalkulator yang jauh lebih canggih.
            Kedua. Perkawinan dua budaya yang berbeda. Apa lagi sekarang manusia sudah mampu berkomunikasi dengan manusia dari berbagai tempat di bumi. Misalnya, ada seorang janda kaya suku melayu menikah dengan seorang duda miskin suku badui. Otomatis akan terjadi percampuran budaya diantara keduanya. Apalagi jika mereka menghasilkan keturunan. Anak mereka harus mengikuti dua budaya yang berbeda. Lalu jika si anak bertemu lagi dengan jodohnya yang merupakan seorang dari dua budaya maka hal ini akan semakin rumit. Satu orang akan menyandang empat budaya seklaigus dan pada akhirnya mereka hanya ikut-ikutan berbudaya padahal sesungguhnya dia telah terbebas dari satu ikatan budaya melainkan menjadi manusia biasa yang setara dengan manusia lainnya. Kecuali, ada niat pribadi dari penyandang empat budaya untuk memilih kebudayaan yang di ingininya. Tetapi, saya rasa manusia di masa sekarang akan cenderung memilih hidup layaknya manusia lain dalam artian hidup berbudaya tapi hanya sebagai hiburan berlaka. Ritual adat yang dijalankan bukan lagi dijalani dengan sepenuh hati melainkan hanya untuk mengenang budaya nenek moyang yang pernah ada.
            Ketiga. Kemajuan transportasi yang mampu berjalan dengan sangat cepat. Berkembangnya teknologi agar manusia bisa dengan mudahnya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya juga memperkuat proses asimilasi di dalam Indonesia. Orang akan lebih cenderung dengan mudah untuk berpindah tempat dan menetap di wilayah yang mereka anggap nyaman. Hal ini akan mendorong interaksi mereka agar lebih menyerupai masyarakat tempat dimana mereka tinggal. Dengan demikian lama kelamaan mereka yang menetap di tempat yang bukan memiliki kebudayaan asli mereka akan terbiasa dengan budaya masyarakat dimana mereka hidup dan melupakan budaya asli mereka yang mereka tinggalkan.
            Keempat. Media sebagai sumber informasi. Merebaknya info-info terkini tentang masyarakat luar menyebabkan seseorang ingin mengimitasi diri mereka dengan masyarakat yang jauh lebih maju. Biasanya hal ini lebih cenderung meniru budaya luar negeri seperti jepang, india, amerika, korea maupun negara-negara lain yang mereka anggap budaya negara tersebut lebih baik daripada apa yang mereka miliki saat ini. Misalnya, seorang remaja puber sedang menonton televisi karena temannya yang memberitahu bahwa super junior dari korea personilnya imut-imut. Besar kemungkinan bahwa temannya itu akan mengikuti perilaku temannya tadi karena teman juga merupakan media yang ampuh dan terpecaya untuk di patuhi.
            Sejauh ini sampai di sini saja pengamatan saya tentang asimilasi. J