Secara pribadi saya lebih cenderung untuk menjunjung asimilasi karena beberapa hal.
Pertama. Zaman yang semakin berkembang membutuhkan
perkembangan yang signifikan pula. Janggal terasa bila seseorang dimasa
sekarang yang sudah mengenal banyak tentang teknologi masih berperilaku hidup
seperti orang awam. Misalnya, katakanlah saya orang kampung yang sangat jauh
dari pusat kota. Namun, kampung saya sudah dijamah oleh kekuatan teknologi.
Akan sangat miris terlihat jika saya sebagai manusia masih menggunakan sempoa
dibandingkan dengan kalkulator yang jauh lebih canggih.
Kedua. Perkawinan dua budaya yang berbeda. Apa lagi
sekarang manusia sudah mampu berkomunikasi dengan manusia dari berbagai tempat
di bumi. Misalnya, ada seorang janda kaya suku melayu menikah dengan seorang
duda miskin suku badui. Otomatis akan terjadi percampuran budaya diantara
keduanya. Apalagi jika mereka menghasilkan keturunan. Anak mereka harus
mengikuti dua budaya yang berbeda. Lalu jika si anak bertemu lagi dengan
jodohnya yang merupakan seorang dari dua budaya maka hal ini akan semakin
rumit. Satu orang akan menyandang empat budaya seklaigus dan pada akhirnya
mereka hanya ikut-ikutan berbudaya padahal sesungguhnya dia telah terbebas dari
satu ikatan budaya melainkan menjadi manusia biasa yang setara dengan manusia
lainnya. Kecuali, ada niat pribadi dari penyandang empat budaya untuk memilih
kebudayaan yang di ingininya. Tetapi, saya rasa manusia di masa sekarang akan
cenderung memilih hidup layaknya manusia lain dalam artian hidup berbudaya tapi
hanya sebagai hiburan berlaka. Ritual adat yang dijalankan bukan lagi dijalani
dengan sepenuh hati melainkan hanya untuk mengenang budaya nenek moyang yang
pernah ada.
Ketiga. Kemajuan transportasi yang mampu berjalan dengan
sangat cepat. Berkembangnya teknologi agar manusia bisa dengan mudahnya
berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya juga memperkuat proses
asimilasi di dalam Indonesia. Orang akan lebih cenderung dengan mudah untuk
berpindah tempat dan menetap di wilayah yang mereka anggap nyaman. Hal ini akan
mendorong interaksi mereka agar lebih menyerupai masyarakat tempat dimana
mereka tinggal. Dengan demikian lama kelamaan mereka yang menetap di tempat
yang bukan memiliki kebudayaan asli mereka akan terbiasa dengan budaya
masyarakat dimana mereka hidup dan melupakan budaya asli mereka yang mereka
tinggalkan.
Keempat. Media sebagai sumber informasi. Merebaknya
info-info terkini tentang masyarakat luar menyebabkan seseorang ingin
mengimitasi diri mereka dengan masyarakat yang jauh lebih maju. Biasanya hal
ini lebih cenderung meniru budaya luar negeri seperti jepang, india, amerika,
korea maupun negara-negara lain yang mereka anggap budaya negara tersebut lebih
baik daripada apa yang mereka miliki saat ini. Misalnya, seorang remaja puber
sedang menonton televisi karena temannya yang memberitahu bahwa super junior
dari korea personilnya imut-imut. Besar kemungkinan bahwa temannya itu akan
mengikuti perilaku temannya tadi karena teman juga merupakan media yang ampuh
dan terpecaya untuk di patuhi.
Sejauh ini sampai di sini saja pengamatan saya tentang
asimilasi. J