Sabtu, 06 Februari 2016

MABIT

Malam Bina Iman dan Taqwa

Kali ini saya dan teman-teman KKN alias internship program melaksanakan MABIT. Adapun asal muasalnya kami melaksanakan kegiatan ini adalah karena adanya ajakan dari tokoh setempat guna membangun karakter anak-anak agar menjadi lebih baik dan menjadi anak yang lebih berguna dimasa yang akan datang. Awal rapat demi kepentingan Mabit lebih sering dilaksanakan oleh enam orang anak laki-laki yang ada di kelompok desa kami dengan ustad dan tokoh setempat. Kemudian pergerakan menggalang dana terus dimulai hingga akhirnya terkumpullah dana yang sebetulnya mengharuskan kami untuk lebih memutar otak agar acara berjalan sebagaimana mestinya.

Acara kali ini diadakan di Masjid Jamie Al-Falah desa Wantilan kecamatan Cipendeuy, Jawa Barat. Pada hari sabtu tanggal 7a Februari 2016 pukul 15.30 dimulai dengan sholat ashar bersama. Kemudian dilanjutkan dengan pembukaan dan sambutan-sambutan oleh ketua pelaksana, penanggung jawab serta pejabat daerah setempat. Lalu dilanjutkan dengan tilawatil Quran, tausiyah dan sholat maghrib bersama.

Cuaca tidak sepenuhnya mendukung, musim hujan masih senang menyinggahi Februari. Namun semangat serta kegigihan tidak melumpuhkan keinginan kami untuk menyelesaikan apa yang telah kami mulai. Acara berlanjut terus hingga makan malam dan motivasi dari kami selaku kakak-kakak yang melaksanakan kegiatan bermasyarakat di desa Wantilan. Setelah video motivasi diputarkan, semua adik-adik kami yang berjumlah kurang lebih 200 orang tidur malam.

Setelah pagi menjelang, pukul 03.00 kami semua mulai bangun untuk melaksanakan sholat tahajud dan kemudian mendengarkan ceramah dari pak Ustadz Ruslan. Kemudian dilanjutkan dengan sholat subuh bersama dan tadarus bersama. Acara berlanjut dengan morning fresh with a health breakfast. Lalu tafakur alam dengan berjalan ke bukit terdekat.

Peserta kembali lagi ke Masjid lalu makan berat kemudian sholat duha bersama dan berlanjut dengan penyuluhan mengenai demam berdarah alias dengue fever.
Acara selesai tepat tengah hari, setelah semua tubuh sudah terasa lengket dan bau badan bercampur baur akhirnya satu per satu anak keluar masjid dengan riang.

Sampai jumpa semuanya, semoga amal ibadah yang kita jalankan diterima dan kita bisa kembali dalam keadaan suka cita.

Selasa, 02 Februari 2016

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


Malam itu, kami semua sepakat untuk menonton bersama di sela-sela penatnya menjalani KKN. Aku, Dinda, Nur, Afifa, dan Nida setuju untuk menonton film tenggelamnya kapal van der wijck. Kabel speaker yg lebih besar disambungkan ke laptop. Sementara lampu dimatikan hingga serasa suasana bioskop kecil-kecilan.

Film di awali dengan kebingungan seorang anak laki-laki campuran minang dan makassar. Di makassar dirinya ditolak sebagai orang makassar sehingga dia bertekad untuk pergi ke padang dan menapaki jejak-jejak kampung halaman bapaknya. Di sanalah kemudian dia bertemu dengan seorang bungo kampuang bernama Hayati. Hayati cantik dan baik hati tapi sayang kekuatan adat istiadat mengalahkan cinta Zainuddin terhadapnya.

Janji besar dipatahkan begitu saja oleh Hayati. Dia pergi menikahi pria kaya dari kalangannya sendiri yang bernama Aziz. Aziz tidaklah sebaik yang Hayati bayangkan, dia pejudi berat. Akan tetapi Hayati telah memilih bahwa tanpa kekayaan dia tidak bisa hidup bahagia.

Dengan setengah gila, Zainuddin bangkit dari keterpurukannya. Dia meninggalkan tanah minang dan merantau ke Batavia. Batavia memberikan kebebasan yang lebih baginya untuk memulai karir. Dia menulis dan menuangkan keperihan hatinya ke dalam tulisan yang membombardir dunia sastra indonesia kala itu.

Bersama dengan kesuksesan Zainuddin sebagai penulis dia pun ditawari perusahaan cetak yang terabaikan di Surabaya. Gayung bersambut hati gembira, selangkah demi selangkah kredibilitasnya naik dan terus menjadi orang terpandang di tempatnya.
Disisi lain, Aziz dipindahtugaskan ke Surabaya dan menetap di sana. Pertemuan tidak terelakkan antara Hayati dan Zainuddin.

Aziz dan Hayati diundang ke pesta yang digelar oleh Zainuddin. Aziz yang menemui kebangrutan akhirnya mengakui kesuksesan Zainuddin dan pada akhirnya meminta pertolongannya jua setelah terusir dari rumahnya sendiri. Mereka berdua ditanggung hidupnya oleh Zainuddin. Telah sebulan berlalu akhirnya Aziz jatuh sakit lantaran malu dengan dirinya sendiri.

Aziz kemudian meninggalkan surabaya untuk memulai karirnya kembali. Akan tetapi dia gagal dan putus asa hingga bunuh diri. Kemudian melepaskan Hayati untuk Zainuddin. Zainuddin yang marah memutuskan untuk memulangkan Hayati ke Padang menggunakan kapal Van Der Wijck. Naas, kapal tersebut tenggelam begitu juga cinta Zainuddin dan Hayati.

Zainuddin berlari ke tempat korban-korban tenggelamnya kapal tersebut mencoba menarik kembali benang yang telah putus. Tetapi benang yang putus tidaklah lagi tergapai oleh tangan. Hayati meninggal dunia di pangkuan Zainuddin dengan mengatakan kembali cintanya yang tak sampai. "Selamat tinggal Zainuddin, semoga kelak cinta kita kembali dipertemukan di surga".

That was a great Indonesian movie I ever watch. It also become my first best list now.

It finished but the bad thing happend before the movie ended. A boy from my grup coming home. We shock because no one of us wearing our hijab. It's just like an earthquake.